didalam suara kepala mu, Indonesia
intagram, line, twitter: adofernando

7/18/15

Keributan Sunyi

Saya bersembunyi dalam darah pencuri yang mati di tikam tirani,
Demi rezeki atau sebongkah rupiah murni
Menjadi satu dengan senyum pelacur yang hingga kini menjadi batu,
Yang telah hilang dari kemurnian nafsu lalu di hujat ribuan yang pernah malu,
Di injak kaki kaki yang memasuki rumah rumah ibadah,
Beserta mulut mulut yang memuja kebesaran Tuhan

Jangan berhentii kau peluk erat jasad ku,
Walau yang tersisa hanya serpih serpih waktu
dan dosa dosa yang masih mengalir menancap seperti paku

Mereka, bajingan
Mereka rampas jutaan butir airmata yang ku tanamkan untuk senyum mu, se percik saja
Sekarang tiada lagi yang tertata dalam cerita,
Hanya darah darah yang mulai mengering di makan kejamnya dosa

Lalu dunia akan menceritakan aku dalam hitam dan setan setan yang bergerak dalam malam

5/4/15

Mencari Waktu

Kadang aku mencintai bayang
Gelapnya sinar yang gagal menembus waktu menjadi sejarah
Hasilkan rumusan bahwa aku mencintai gadis yang tak lagi ada
Karena setengah hati menyangkut pada masa lalu

Kadang aku mencintai fajar tapi sekarang sudah senja
Seperti terikat waktu tak kunjung henti bergerak
Sesal yang mengendap menjadi keras dan mengeras
Merusak system hati yang seharusnya bisa terobati

Kadang yang diperlukan hanyalah kesempatan
Tuk merayu waktu atau merayu kamu untuk kembali
 Karena jika kamu adalah pucuk kedua mataku

Kemana aku akan mencari?

Tragedi Romasa Angkasa

Senja kali ini rembulan  terlambat, mungkin jalanan padat
Hanya ada ilusi ilusi nya yang tampak membayang mengambang
Lekuk badan sahabatnya kian membayangi angkasa

Kala sepasang kekasih saling memandang di cakrawala
Bergelora, warna warni hati memenuhi aura
Membentuk kepadatan rasa seperti mempunyai sayap

Jingga warnanya, warna mereka berdua melepas rindu walau kadang biru
Hanya bertatapan mata walau detik selalu menarik
Kadang iri aku masih belum bisa begitu ikhlas seperti mereka yang iklaskan waktu

Ingin berdusta jika mereka adalah jiwa adam dan hawa
yang tidak rela dipersatukan oleh bumi tetapi Tuhan memahami

lalu bintang bintang hanya butiran kebahagian mereka berdua

2/25/15

Rusaknya Seorang Pria

Sekejap langit menjadi sunyi
Dan diantara suara hampa ia bernyanyi
Jerit jerit butir air menghempas bumi
Seketika menjadi diam dalam ramai

Wajahnya memucat seiring menghisap sebatang kebosanan
Darah habis di isap kejam ibu kota
Lalu hati nya? Tiada
Masih tertinggal pada gadis yang tak kunjung jumpa

Rindu pada ibu seperti batu
Menyangkut di dada nya tiada yang tau
Tak sanggup kaki pulang membawa malu
Pada mata ibu yang tak lelah menunggu

Perlahan mencari Tuhan

Tak jauh dari segumpal kematian

1/4/15

Demokrasi semut

Aku bersuara dalam demokrasi semut
Mulut menyatakan gula merah terlalu manis untuk rakyat hitam
Kita terlalu penuh dan tenggelam akan merah
Bahwa ternyata masih tersisa putih dalam kami

Hingga sungut sungut para petinggi saling mengirimi surat
Menyatakan putih adalah buah buat pikiran yang merusak tersirat
Menyatakan lawan adalah seseorang dari teman satu urat

Cintaku begitu besar untuk negeri ini
Kita harus menyatakan perang pada genggam koloni
Kini mulutku akan menyuarakan sampai mati

Lalu mereka bertarung
yang mengimani putih dan merah mengaung

Hingga pada suatu tempo
Aku mengerti akan warna
Terkadang kita harus diam tak mengumbar
Demi kamu aku harus berhenti menjadi kami

Merendung


Sesekali datang cuaca mendung
Merundukan hati untuk merenung
Di leher ku tergantung seutas kalung
Mengenang kamu yang pergi mengapung
Dan tatapan sebuah punggung

Berjatuhan angkasa
Tiada menghapus, senyum mu tersisa
Rindu, terasa lebih pisau menyiksa

Aku sudah berkali kali. mati
Tapi kamu lebih mati dari abadi
Aku cinta dan selalu cinta
Karena kamu jadi tujuan aku pulang

Rindu kerap mampir membawa duka
Walau hati pulang pada satu cerita

Selalu gemetar dada setiap nama mu berhenti di kuping
Dan hati terlempar pada tempo dimana kamu sepenuhnya aku
Kala nafas mu menari nari kecil di hati dan kecup pipi di depan pintu

Aku selalu percaya
Terbangkan isyarat isyarat hati pada hujan,
Kelak ia akan sampaikan bisik ku melalui dimensi dimensi mendung
Walau kamu tak kunjung pulang,
Ku tunggu pada ujung mata ku
Siapa tau ada rindu kecil di hati mu

Aku selalu percaya

6/25/14

Tangan yang Menggenggam


Kita akan saling berjanji layaknya merpati
Bahwa kamu takkan pergi untuk pergi

Dan seperti selayaknya
Suatu saat kamu akan hilang menjadi udara

Karena suatu saat kamu akan lari
Menuju kematian atau antah berantah menari

Lalu aku akan berluapkan tanya
Kuatkah alasanmu untuk menyerah?
Yang melangkahi sejuta airmataku pada tali janjimu

Bersamaan dengan berputarnya mentari
Kita akan terus berlari
Tanpa aku, kamu akan berlari
Tanpa kamu, aku akan berlari
Dan aku masih akan tenggalam akan tanya
Tentang hilangnya kamu.

Karma



Salam kenal
Karma namaku, tangan rapuhnya mengirimku padamu
Beserta berjuta pilu yang terlalu tangis untuk di ucapkan

Setiap senja dia selalu berbisik padaku tentang puisimu
Bait syair syair begitu kental dengan hitam
Dongeng dongeng merekah pada rambutku
Dan pada telingaku yang berdarah, hingga
Semua dongeng menjadi satu denganku
Melengkapi aku seperti kekasih, sama
Seperti saat kamu dan dia bersama, kekasih

Aku akan datang sedingin ucapan selamat tinggal
Setajam lengkung lidahmu aku akan menjagal
Lalu dengan simpul senyumku kamu meninggal
Dan seiring kamu pergi, aku akan perlahan menghilang

Selanjutnya aku akan melambaikan tangan
Seperti terpisahnya seorang teman
Ia akan tersenyum dan meninggalkan sebuah senyuman
Menjadikan kamu sebuah kenangan.

Layang Layang


Pernah mengambang
Nyawaku digenggam seutas takdir bergaris kaca

Hidupku, sesuatu yang kamu sebut sebut mimpi
Tuk lari dari bumi dan membisu di angkasa

Sebelum aku pergi dewa mengikat aku pada kenyataan
Agar aku tak selalu mimpi dan tak selalu nyata
Agar suatu saat ia bisa membuatku tertunduk kerasnya tanah
Agar suatu saat aku ingat dimana aku berasal

Seperti yang lain, aku dilahirkan untuk pulang
Kemana dunia berputar, aku tetap dilahirkan untuk pulang
Mengikuti aroma mentari pada sudut kamar
Mencari suara Ibu yang kerap bernyanyi

Sebelum aku hilang, aku pernah kembali
Sebelum aku melayang, aku pernah punya rumah
Dan sebelum mengambang, aku pernah pulang dan akan pulang

2/1/14

Cinta Ibu Pagi-Pagi

Segelas pagi kamu sediakan di tempat aku berbaring


Lalu sinar sinar pagi terbelah tajam rambutmu yang hitam


Suaramu menutup mimpiku malam tadi


Lalu aku kamu tampar dengan kenyataan


Bahwa hari ini sekolah tidak libur dan padatnya jalan.