matanya yang tajam itu berkedip
bersiap memangsa
kakinya menyentuh bumi yang bergetar
melambaikan sinyal rampas
tak kunjung tiba
lalu ia berlalu kencang
mangsa itu panik
berteriak,
COPET!!!
- Fernando Diroatmodjo
- didalam suara kepala mu, Indonesia
- intagram, line, twitter: adofernando
5/13/10
5/10/10
Penjaga Makam
lampu itu bekedip kepadaku
ditengah hutan gulita
yang merebah rindang, menghadang angin
ku kira itu bintang yang lain
yang meliuk liuk berbicara
dengan kekasihnya,
seperti senja
saat mentari dan bulan hampir bertemu
melampiaskan kerinduan mereka berdua
hanya sekian detik
mereka menari...
dan malam berseri
bersama para bintang menemaninya
lampu itu bercerita
tentang hari harinya sendiri
bersama tuannya yang tua itu
yang memberinya nafas setiap senja hingga malam
menjaga yang telah mati
tenggelam dalam tanah merah
tuannya itu selalu berteduh
di dalam Masjid putih
dan menyanyikan ayat ayat suci di atas sajadah
menunggu waktunya tiba
walau senyuman itu tak pernah mati..
ditengah hutan gulita
yang merebah rindang, menghadang angin
ku kira itu bintang yang lain
yang meliuk liuk berbicara
dengan kekasihnya,
seperti senja
saat mentari dan bulan hampir bertemu
melampiaskan kerinduan mereka berdua
hanya sekian detik
mereka menari...
dan malam berseri
bersama para bintang menemaninya
lampu itu bercerita
tentang hari harinya sendiri
bersama tuannya yang tua itu
yang memberinya nafas setiap senja hingga malam
menjaga yang telah mati
tenggelam dalam tanah merah
tuannya itu selalu berteduh
di dalam Masjid putih
dan menyanyikan ayat ayat suci di atas sajadah
menunggu waktunya tiba
walau senyuman itu tak pernah mati..
Anak Bumi
aku anak bumi,
masih pantaskah aku menagih janji?
atas semua lirih dunia
aku anak bumi
pantaskah aku menghirup udara?
di tengah debu dunia
yang berdansa bersama abu
di ambang tiga dimensi
aku anak bumi
yang bersujud pada mentari
dan terus menari
hingga aku mati
meninggalkan peti
tak berisi
masih pantaskah aku menagih janji?
atas semua lirih dunia
aku anak bumi
pantaskah aku menghirup udara?
di tengah debu dunia
yang berdansa bersama abu
di ambang tiga dimensi
aku anak bumi
yang bersujud pada mentari
dan terus menari
hingga aku mati
meninggalkan peti
tak berisi
5/9/10
Sepotong Cerita Untuk Bunda
dan butiran terahir darahku
ku letakkan ditelapak kakimu
Kau pernah berkata
Kau pernah bercerita
akan masa kecil itu
saat aku terbata bata membaca kata
dalam nyanyian buta
ku ingat bunga bunga yang tertera
dalam garis bibirmu
saat aku terluka merah
dan Kau mengecupnya dengan sentuhan ajaib
dan memelukku dengan cinta
hingga aku tenggelam didalamnya
saat aku menangis terjatuh dari sepeda
Kau memegang erat tanganku
sepeda roda tiga
sepeda cinta dari Bunda
aku sedih, pilu rasanya
melihat barisan keringat pada keningmu
yang berlomba turun
membasahi ragamu
dan aku hanya bisa melagukan nada nada tangis
yang membuat wajahmu memerah
setiap nafasmu adalah pesan untukku
yang kau bisikan pada udara buta
Bunda, maafkan aku atas segala dosa yang melekat
Bunda, maafkan aku atas setiap butir airmata mu
Bunda, maafkan aku. puisi puisi kecil ini milik mu
Bunda, maaf ...
ku letakkan ditelapak kakimu
Kau pernah berkata
Kau pernah bercerita
akan masa kecil itu
saat aku terbata bata membaca kata
dalam nyanyian buta
ku ingat bunga bunga yang tertera
dalam garis bibirmu
saat aku terluka merah
dan Kau mengecupnya dengan sentuhan ajaib
dan memelukku dengan cinta
hingga aku tenggelam didalamnya
saat aku menangis terjatuh dari sepeda
Kau memegang erat tanganku
sepeda roda tiga
sepeda cinta dari Bunda
aku sedih, pilu rasanya
melihat barisan keringat pada keningmu
yang berlomba turun
membasahi ragamu
dan aku hanya bisa melagukan nada nada tangis
yang membuat wajahmu memerah
setiap nafasmu adalah pesan untukku
yang kau bisikan pada udara buta
Bunda, maafkan aku atas segala dosa yang melekat
Bunda, maafkan aku atas setiap butir airmata mu
Bunda, maafkan aku. puisi puisi kecil ini milik mu
Bunda, maaf ...
5/7/10
Waktu
umur ini bertambah
waktu di bumi berkurang
dan
semua itu akan hilang
dimainkan oleh dalang
tak bertulang tak bersulang
menegakkan dengan orang
menumbangkan dengan parang
dengan jarum detik yang berdentang
yang menggerogoti dunia perlahan
akankah kau bertahan
saat semua tergeletak matang
akankan kau bertahan
saat semua terjual mahal
dan mungkin kita hanya sunyi
tanpa suara tanpa bunyi
tanpa engkau aku mati
saat mereka menikmati
dimana terdapat retak gigi
tempat hitam putih menjadi bumi
aku kan bertahan, aku kan bertahan hingga letih
mungkin hingga mentari berseri
pada raga yang bersih
mungkin mentari dan rembulan menari
dan cinta tidaklah mati
waktu di bumi berkurang
dan
semua itu akan hilang
dimainkan oleh dalang
tak bertulang tak bersulang
menegakkan dengan orang
menumbangkan dengan parang
dengan jarum detik yang berdentang
yang menggerogoti dunia perlahan
akankah kau bertahan
saat semua tergeletak matang
akankan kau bertahan
saat semua terjual mahal
dan mungkin kita hanya sunyi
tanpa suara tanpa bunyi
tanpa engkau aku mati
saat mereka menikmati
dimana terdapat retak gigi
tempat hitam putih menjadi bumi
aku kan bertahan, aku kan bertahan hingga letih
mungkin hingga mentari berseri
pada raga yang bersih
mungkin mentari dan rembulan menari
dan cinta tidaklah mati
5/5/10
burung kecil itu terbang
tanpa satu kepakan sayap
ia mengambang pada lintasan angin yang menerpa
sepertinya ia mengarah
pada gumpalan awan maha karya
biru seperti samudra
jingga seperti daun musim panas
manusia melangkah pulang
dengan tawa yang masih menempel pada wajah
bermain, bercanda, bersuka, bersenang
indah
dunia itu indah
karena aku mencintaimu dunia itu indah
karena engkau melihat ke arah ku
dunia itu indah
karena aku berdiri disampingmu
dunia itu indah
walau umurku dimakan waktu
aku hanyalah untukmu
dan dunia itu indah
lintasan angin itu bermain pasir
berterbangan di tengah dimensi
menunggu air menghujani
aku duduk, diatas kayu putih
berayun dingin
menghabisi waktu dengan berfikir
jika aku mati...
tanpa satu kepakan sayap
ia mengambang pada lintasan angin yang menerpa
sepertinya ia mengarah
pada gumpalan awan maha karya
biru seperti samudra
jingga seperti daun musim panas
manusia melangkah pulang
dengan tawa yang masih menempel pada wajah
bermain, bercanda, bersuka, bersenang
indah
dunia itu indah
karena aku mencintaimu dunia itu indah
karena engkau melihat ke arah ku
dunia itu indah
karena aku berdiri disampingmu
dunia itu indah
walau umurku dimakan waktu
aku hanyalah untukmu
dan dunia itu indah
lintasan angin itu bermain pasir
berterbangan di tengah dimensi
menunggu air menghujani
aku duduk, diatas kayu putih
berayun dingin
menghabisi waktu dengan berfikir
jika aku mati...
5/4/10
Pengelana Malam
lalu ia keluar dari kegelapan dunia
membawa butiran airmata
ia berkaca pada lempengan besi
melihat wajahnya berkarat pasi
ia mengadah ke atas
melirik jarum jam yang seakan mengejek
bahwa ia sebatang kara
langkah kecilnya bawakan suara
dan mengumbarnya ke seluruh dunia
perduli setan dengan mereka
mereka tak pernah mengerti
lalu jantungnya beradu cepat
dengan kereta malam hari
membungkam dunia malam
di dalam tas merah
ia berjalan
tak menengoh
menjatuhkan air mata
dan senyum pesona
membawa butiran airmata
ia berkaca pada lempengan besi
melihat wajahnya berkarat pasi
ia mengadah ke atas
melirik jarum jam yang seakan mengejek
bahwa ia sebatang kara
langkah kecilnya bawakan suara
dan mengumbarnya ke seluruh dunia
perduli setan dengan mereka
mereka tak pernah mengerti
lalu jantungnya beradu cepat
dengan kereta malam hari
membungkam dunia malam
di dalam tas merah
ia berjalan
tak menengoh
menjatuhkan air mata
dan senyum pesona
Karya Seorang Manusia
sayatan senar gitar itu tercetak abadi
dalam ruang hampa tak terhapus
jari itu menari diatas emosi jiwa
melemparkan segala suka duka
dan sebatang rokok yang terbunuh api
ia memakan asap abu abu
mengambang di atas panggung
di sengat sinar lampu sorot
kertas itu, memandu cerita ke cerita
setiap puisi bernada itu ia cetak
dengan goresan tinta hitam dalam kertas putih
dengan lengkungan setiap nada yang ada
ia berkarya dalam telinga
keriput dahinya
berpikir
mengukir
hingga semua menjadi satu
hingga semua menjadi batu
dalam ruang hampa tak terhapus
jari itu menari diatas emosi jiwa
melemparkan segala suka duka
dan sebatang rokok yang terbunuh api
ia memakan asap abu abu
mengambang di atas panggung
di sengat sinar lampu sorot
kertas itu, memandu cerita ke cerita
setiap puisi bernada itu ia cetak
dengan goresan tinta hitam dalam kertas putih
dengan lengkungan setiap nada yang ada
ia berkarya dalam telinga
keriput dahinya
berpikir
mengukir
hingga semua menjadi satu
hingga semua menjadi batu
5/2/10
Manusia Senja
hey engkau,
punyakah engkau peta menuju hatimu
bolehkah aku memiliki sepotong saja?
hey engkau,
bisikanlah aku tentang sepotong hidupmu
janganlah engkau berbicara kematian
karena aku menikam waktu
menyayat dunia
membunuh jarak
untuk bertemu engkau
tetapi dimanakah enkau?
apakah engkau berada setelah atau sebelum?
dimanakah engkau?
dan jika kau mencari diriku
aku adalah senja dan selalu senja
bukan malam dan bukan siang
walau terkadang aku menghiasi waktu
senja yang menjadi malam
jika aku mati
tempat terindah untuk mati
adalah dalam pelukan ragamu..
punyakah engkau peta menuju hatimu
bolehkah aku memiliki sepotong saja?
hey engkau,
bisikanlah aku tentang sepotong hidupmu
janganlah engkau berbicara kematian
karena aku menikam waktu
menyayat dunia
membunuh jarak
untuk bertemu engkau
tetapi dimanakah enkau?
apakah engkau berada setelah atau sebelum?
dimanakah engkau?
dan jika kau mencari diriku
aku adalah senja dan selalu senja
bukan malam dan bukan siang
walau terkadang aku menghiasi waktu
senja yang menjadi malam
jika aku mati
tempat terindah untuk mati
adalah dalam pelukan ragamu..
5/1/10
Saat Waktu Berhenti
saat bumi tak berputar
aku mampu membisikan kata cinta di telingamu
saat bumi tak berputar
aku mendekapmu dengan seluruh raga ini
dan aku hanyalah sepotong lilin
yang menunggu minyaknya habis
dan cintaku adalah api dipucuk lilin itu
yang memberi inti hidupku
juga membunuhku mati perlahan
dan mungkin engkau akan melempar
gumpalan angin terlebih dulu
pada saatnya aku akan menyelam dalam kematian
takkan ku bungkam semua kenangan kita
takan ku tutup rapat album itu
mungkin kau tau,
suatu masa dimana engkau setengah terlelap
dan setengah terbangun
disana aku akan tetap mencintaimu
hingga mentari menari dengan rembulan
di lantai dansa biru itu...
aku mampu membisikan kata cinta di telingamu
saat bumi tak berputar
aku mendekapmu dengan seluruh raga ini
dan aku hanyalah sepotong lilin
yang menunggu minyaknya habis
dan cintaku adalah api dipucuk lilin itu
yang memberi inti hidupku
juga membunuhku mati perlahan
dan mungkin engkau akan melempar
gumpalan angin terlebih dulu
pada saatnya aku akan menyelam dalam kematian
takkan ku bungkam semua kenangan kita
takan ku tutup rapat album itu
mungkin kau tau,
suatu masa dimana engkau setengah terlelap
dan setengah terbangun
disana aku akan tetap mencintaimu
hingga mentari menari dengan rembulan
di lantai dansa biru itu...
Subscribe to:
Posts (Atom)